Sunday, March 19, 2017

NZ Trip D2-3: Auckland, sehari di kota metropolitan yang santai dan jadul...

Note: Cerita sebelumnya tentang NZ Trip, ada di sini ya

After looong flight (sekitar 20 jam++ termasuk waktu transit), sampailah kita di kota pertama, Auckland. Cerita tentang flightnya sendiri gw share di postingan terpisah aja kali ya biar lebih fokus.

Sampai Auckland, sekitar jam 3 sore, disambut mendung dan rintik hujan. Naik Skybus dari airport ke tengah kota menuju Ramada Hotel di Federal Street, tempat kita menginap selama 2 malam. Selama perjalanan ke kota, kesan pertama gw terhadap kota ini adalah: less-modern alias sederhana alias jadul hehe. Bentuk bangunan rumahnya kayak di film/series Amerika tahun 90an, gak banyak lihat gedung tinggi, dan gak banyak mobil yang seliweran seperti di jalanan Jakarta.

Abis check-in, sholat, beres2 koper bentar, dll dll, kita keluar lagi buat cari makan. 1st meal in Auckland: wrap kebab yang ukurannya hampir segede tangan gw. Rasanya? Hmm, kurang sambel. Lupa pula ga bawa sambel sachetan. Oiya, makan di NZ ini lumayan mahal. Makanan paling aman macam kebab/burger/fish n chips itu sekitar 10-15 NZD per porsi. Tapi emang porsinya gede banget. Jadi cukup worth it.

Cek-cek +TripAdvisor yang jadi andalan selama trip kemarin, things to do di pusat kota adalah mengunjungi Viaduct Harbour, yang jaraknya gak jauh dari hotel. Kita memasuki wilayah Viaduct Harbour lewat daerah Hotel Sofitel, dekat yacht-yacht mewah terparkir. Mirip di Ancol gitu, tapi lebih banyaaak. Tapi lagi-lagi kenapa sepi sekali ya di sini.

Itu yacht bergelimpangan pada punya siapa yaa
Jalan dikit ke arah dermaga, barulah kita lihat ada banyak kafe/resto dan orang-orang nongkrong. Oh ternyata tadi kita salah masuk, pantesan sepi hehe. Itu hari Rabu sekitar jam 6-7 sore. After office hour. Ah nikmatnya hidup di sini, jam 5-6 udah pulang kantor dan gak perlu macet-macetan (lah gw bandinginnya sama Jakarta mulu siy hehe).

Itu di belakang keliatan kan ada kafe,
mayan ada orang...
Sekitar jam 7-8 malam, toko-toko di daerah Queen Street, jantungnya kota Auckland, udah mulai tutup. Balik jalan kaki ke hotel dan mulai berasa dingin. Memasuki musim gugur, cuaca lagi galau. Mendung, ujan, dan anginnya cukup kencang. 


Oiya, lokasi hotel kita sebenarnya cukup dekat dengan Auckland Tower. Penasaran banget sama Auckland Tower, tapi setelah dilihat-lihat, kok Auckland Tower itu bentuknya mirip sama.... mmm, Menara TVRI ya hehe. Dan honestly gak se'charming' seperti di foto-foto yang gw liat selama ini. Jauh lebih megah Petronas Tower di KL. Oh maaf Auckland, kau memang agak jadul ya hehe.. (siap-siap digaplok orang Auckland nih hehe)

Auckland Tower behind us!!
(apa prasaan gw doang kali ya bilang Auckland Tower mirip
Menara TVRI hihi)
See...?
***

Besoknya, ada perubahan itinerary. Awalnya kita berencana ke Hobitton dengan bus tour Auckland - Matamata (Hobitton) pp. Itu alasan kenapa gw book 2 malam stay di Auckland. Tapi dipikir-pikir lagi, keinginan ke sana vs biaya tournya kok gak worth ya. Gak rela aja sih ngeluarin min. 1,5 jt per orang (baca: pelit! hehe). Langsunglah Hobitton dicoret dari list.

Dan kita lebih memilih Auckland city stroll, diawali dengan ke....

Lately, we love parks... Bahkan Andri yang pengen banget ke sini. Cari jalan dan rute bus untuk ke sini ternyata ga mudah. Bahkan kita sempet nyasar. Transportasi umum di Auckland memang gak terlalu bagus. Jadwal bus di haltenya gak akurat. Bahkan masih jauh lebih bagus bus di Singapore.

Setelah berhenti di salah satu halte, kita jalan lumayan jauh melewati perumahan di daerah Epsom. Love the residential area so much. Benar-benar mengingatkan gw sama American TV series tahun 90an yang sering gw tonton waktu kecil.


Dan sampai akhirnya tembus di pintu samping (atau belakang) Cornwall Park. Yeay, sampe!

 
That typical NZ pics: sheeps!
Komen ibu/adik2 gw pas liat pic ini: kok rumputnya gak ijo kaya
di iklan2 yah??

Di sini, kita brunch di Cornwall Cafe..



Trus foto-foto ampe puas berasa di taman sendiri. Karena nyaris ga ada orang hehe..



Tadinya niat mau lanjut ke One Tree Hill, tapi tiba-tiba ujan rintik-rintik. Batal deh. Daripada masuk enjin, ga lucu kan.


Kemudian lanjut ke...

Jadi yah, sepanjang perjalanan ke sini, lagi-lagi kita naek bus dan nyasar. Berhentinya kecepetan, jadi jalannya mayan jauh. Selama jalan kok jarang ketemu orang. Tapi pas udah nyampe Mt. Eden ternyata lumayan rame turis. Ooh ternyata mereka pada naik bus. Lah apa-apaan kita jalan kaki segala.

Sayangnya, langit lagi mendung banget. View jadi kurang kece. Angin di atas juga kenceng banget. Gw yang parno sama angin gelebuk gitu ga berani banyak foto-foto. Pengennya buru-buru turun aja.


Turun dari Mt. Eden, masih sekitar jam 4 sore. Masih punya banyak waktu buat lanjut strolling walopun udah mulai encok karena jalan melulu. Akhirnya kita putusin buat nyebrang ke...

Devonport (Mt. Victoria)
Devonport adalah daerah suburban yang masih termasuk wilayah Auckland. Devonport bisa ditempuh dengan ferry selama sekitar 12 menit dari Viaduct Harbour. Menurut mas-mas yang jaga loket ferry, must-see di sini salah satunya adalah Mount Victoria karena bisa lihat view Auckland dari atas bukit. Another mount means, another jalan kaki nanjak bukit... Hmm, beklah...

Dan begitu sampe puncak... hohoho... we're the only two were there! Ga ada orang aja dong haha.. Eh ada sih, sempet ketemu sama satu runner. Iyes, runner bok, lari aja doi naik turun gunung...

Jalan menuju puncak gunung yang tanpa pagar..
Sebelah kiri jurang ajaa
Kebayang dong kece viewnya kalo langitnya biru cerah...
Liat foto ini lagi kok tampak seperti lagi di... Danau Batur ya hehe
Gak lama di atas, kita turun lagi ke dermaga untuk ngejar ferry balik ke downtown Auckland.

Sebelum naik ferry balik ke Auckland...
Auckland CBD di seberang sono...


Sampai lagi di Auckland downtown sekitar jam 7 malam lewat, tapi langit masih terang. Dari kemarin beberapa kali liat plang MOJO coffee shop dan penasaran pengen nyobain. Tapi begitu disamperin udah pada tutup hiks. Pas lagi jalan mau ke arah hotel Andri liat ada coffee shop yang masih buka pake logo MOJO. Langsunglah masuk dan order. And, the coffee was great, as expected.




Walopun super capek abis jalan kaki (mungkin) belasan kilometer hari itu (lebay hihi), tapi happy karena bisa explore Auckland at our best. Not to mention, find MOJO as bittersweet closure.


NZ Trip: How it begun....

Excitement ini masih begitu membuncah (ciyeh) saat gw menulis postingan ini. Masih nggak percaya kalo satu per satu, bucket list gw bisa terwujud...

Yesss, gw dan Andri baru balik dari one of our most memorable trip: New Zealand Trip! Bukan hanya 'New Zealand'-nya yang membuat trip ini menjadi memorable. Tapi hampir semua hal kecil yang terjadi selama trip ini memberikan kenangan indah yang mudah-mudahan bisa memperkuat hubungan kita berdua.

Masih lekat banget di ingatan gw, di Eurotrip beberapa tahun lalu, pada saat perjalanan melintasi Swiss, gw sungguh terpesona sama pemandangan gunung, lembah, dan kehidupan countryside yang begitu terlihat damai. Gw sempat berucap, "Beb, bagus banget yah.... Di mana lagi yah tempat yang banyak view kayak gini?"

"Kalo mau liat banyak yang kayak gitu (view gunung, lembah, dll), di New Zealand tuh katanya lebih bagus...." ucap Andri.

Sejak saat itu, gw memantapkan hati, our next trip destination must be: New Zealand.... Whatever it takes!

Tapi ya tentu saja namanya menuju (destinasi) impian butuh banyak usaha. Tahun-tahun berikutnya kami gak travel ke tempat jauh. Walopun alhamdulillah banget sempat umroh dan kemudian lanjut ke Istanbul selama 2 hari. Tahun selanjutnya, prioritas kembali ke urusan program punya anak (walopun belum berhasil).

Sampai akhirnya, seolah universe conspires untuk membantu mewujudkan bucket list ini. Ada rezeki waktu luang, kesehatan, dan tentunya finansial, untuk New Zealand trip ini. So  finally we make it happened! Alhamdulillah.

Beneraaan, ini bukan di Kebun Raya Bogor hihi

The 'road trip' has made the difference

Eurotrip kemarin kita pakai jasa travel agent Golden Rama. Despite of the convenience being tourist yang super gak mikir, tinggal duduk manis (atau tidur) di bus selama perjalanan, tapi bisa dapat banyak tempat, kita mikir trip ini harus beda. Tiap kali browsing soal NZ trip, hampir semua menyarankan road trip adalah best way to enjoy NZ scenery. Atau road trip using camper van biar beda sekalian. Tapi dipikir-pikir, kami gak se adventurous itu buat pake camper van hehe, jadi gw dan Andri memantapkan pilihan untuk sewa mobil biasa selama perjalanan di South Island.

Dan keputusan road trip itu one of the best decision karena justru kami lebih relaks, fleksibel, dan fokus sama tempat-tempat yang kita mau tuju. Apalagi sepanjang perjalanan, subhanallah banget, view bagusnya gak abis-abis. Andri bilang, "Di sini kayak muntah ya gunungnya," Saking banyaknya gitu hehe. Jadi kita bisa stop di mana pun yang kita mau untuk foto. Di NZ road suka dikasih sign "Scenic Lookout in 300m" sama pemerintahnya. Dan biasanya scenic lookout itu memang udah dipilih yang spotnya bagus banget untuk foto.



Was our daily view during road trip 
Itu di jok belakangnya padahal udah kayak kapal pecah hehe

The itinerary

Selama 3 bulan sebelum berangkat, hampir tiap malam gw begadang buat 'research' dan bandingin itinerary orang-orang yang NZ trip. Kayanya gw bongkar pasang itinerary lebih dari 6-7 kali deh. Bahkan begitu sampai pun, itinerary masih berubah juga haha.

Intinya, kami pengen spend more time untuk lihat view cantik NZ daripada di kota. South Island lah yang viewnya lebih cantik. Dengan keterbasan waktu yang kita punya (10 hari 9 malam), akhirnya actual itinerary nya jadi begini:

Day 1-2 : Jkt - Denpasar (by Air Asia), Denpasar - Sydney - Auckland (by JetStar)
Day 3 : Auckland city sightseeing (sebelumnya ada rencana ke Hobitton tapi gak jadi gara-gara gw gak terlalu kepengen karena emang gak nonton filmnya, dan harga tiketnya mahal)
Day 4 : Auckland - Christchurch (by JetStar). Kita mulai sewa mobil dari kota Christchurch.
Day 5 : Christchurch - Franz Josef (via Haast Bay)
Day 6 : Franz Josef - Wanaka (our favourite city!)
Day 7 : Wanaka - Lake Pukaki - Lake Tekapo
Day 8 : Lake Tekapo - Aoraki/Mt. Cook National Park - Queenstown
Day 9 : Queenstown - Glenorchy - Te Anau
Day 10 : Te Anau - Milford Sound - Queenstown (balikin mobil di kota Queenstown)
Day 11 : Queenstown - Sydney - Denpasar (by JetStar), Denpasar - Jkt (by Air Asia)

Ini sama sekali bukan itinerary ideal. Banyak kota dan tempat yang gak kita lewatin karena memang keterbatasan waktu. Biasanya orang banyak memilih rute Christchurch Loop, jadi dari Christchurch - ke selatan - balik lagi ke Christchurch buat balikin mobil karena bisa lebih murah juga biayanya. Tapi mengingat waktu yang kita punya, harus memilih. Positifnya, kita bisa pengen spend waktu di kota Queenstown yang memang suasananya lebih relaks.


Kurang lebih begitu cerita awal dari NZ Trip ini... Doakan saya selalu full energi buat posting sampai hari terakhir! hihi... Fotonya buanyak banget, sayang kalo ga di share. Kalo di share di IG semua takut orang pada mual hehe.

Saturday, February 18, 2017

on a cloudy saturday morning

Memasuki weekend kesekian di tahun 2017. Gak bosan-bosannya bilang, how time flies so fast!

Biasanya Sabtu pagi gini gw udah lari minimal 5 kilo. Tapi entah kenapa, beberapa weekend ini rasanya super males lari Sabtu pagi. Di hari Minggu pun butuh energi ekstra buat bangun pagi dan siap-siap dengan baju dan gear lari.

Maybe I just need to slow down after those several races... Dih, kok anaknya gampang puas dan bosenan ya.

Sementara Andri malah makin giat ikut race. Awal tahun ini aja Andri udah ikut mini triathlon dan duathlon. Udah daftar FM pula di Jogja Marathon. Saya? Hehe *senyum dikulum aja ;D*

Padahal di kepala dan di depan mata lagi banyak banget rencana yang seru banget. Tapi berhubung menuju keseruan itu banyak hal yang harus dikerjain, jadilah rasanya tiba-tiba pengen slowing down lagi. Di situlah letak tantangannya: melawan kemalasan!

Sebenarnya bukan males sih, cuma berasa gak punya energi aja. Ibarat otak menyala-nyala, tapi otot melambai-lambai. Hihi jelek banget perumpamaannya ya. Ataukah mungkin memang energi udah gak seprima 5-7 tahun lalu yang masih bisa hajar bleh.

Sepertinya ini saatnya untuk mempraktekkan lesson learned dari ikutan race lari ke dalam kehidupan nyata: once your mind said no, your body follows....


Ah, super jleb!!
(source: Pinterest)