Saturday, February 18, 2017

on a cloudy saturday morning

Memasuki weekend kesekian di tahun 2017. Gak bosan-bosannya bilang, how time flies so fast!

Biasanya Sabtu pagi gini gw udah lari minimal 5 kilo. Tapi entah kenapa, beberapa weekend ini rasanya super males lari Sabtu pagi. Di hari Minggu pun butuh energi ekstra buat bangun pagi dan siap-siap dengan baju dan gear lari.

Maybe I just need to slow down after those several races... Dih, kok anaknya gampang puas dan bosenan ya.

Sementara Andri malah makin giat ikut race. Awal tahun ini aja Andri udah ikut mini triathlon dan duathlon. Udah daftar FM pula di Jogja Marathon. Saya? Hehe *senyum dikulum aja ;D*

Padahal di kepala dan di depan mata lagi banyak banget rencana yang seru banget. Tapi berhubung menuju keseruan itu banyak hal yang harus dikerjain, jadilah rasanya tiba-tiba pengen slowing down lagi. Di situlah letak tantangannya: melawan kemalasan!

Sebenarnya bukan males sih, cuma berasa gak punya energi aja. Ibarat otak menyala-nyala, tapi otot melambai-lambai. Hihi jelek banget perumpamaannya ya. Ataukah mungkin memang energi udah gak seprima 5-7 tahun lalu yang masih bisa hajar bleh.

Sepertinya ini saatnya untuk mempraktekkan lesson learned dari ikutan race lari ke dalam kehidupan nyata: once your mind said no, your body follows....


Ah, super jleb!!
(source: Pinterest)

Warm January....

Note: Ini postingan yang udah beberapa minggu mengendap di draft. Tiap kali mau diposting selalu error. Berhubung udah ditulis, ada baiknya tetap gw post saja yaa..

***

January might cold and rainy, but to me it was warm and lovely...

Kumpul-kumpul di hari pertama 2017
Pagi-pagi, lari dari rumah ke flyover Antapani yang waktu itu baru dibuka dan belum diresmikan. Deket banget dari rumah, gak sampe 3 kilometer. Andri lari duluan, trus ketemu di fly over. Trus foto-foto....

1st ootd 2017. 
Sok gaya fierce tapi kata temen gw, muka gw terlalu
baik-baik dan kurang cucok bergaya fierce :D
Kalau aja gak ada ceceran sampah sisa tahun baru, pasti lebih kece..
Sampai rumah, tiba-tiba kepikiran pengen cari sarapan di luar rumah bareng-bareng. Traffic Bandung pagi itu cukup ramah. Sempat macet dari Terminal Dago sampai belokan arah Tahura. 

Setelah agak nyasar, tanya sana-sini, sampailah kita ke.... Armor Leuit, tempat ngopi yang relatif baru di Dago Atas. 'Cabang' dari Armor Kopi Tahura yang sekarang sudah dibongkar.

Sejujurnya gw lebih suka view dan suasana Armor Kopi Tahura dengan pohon pinusnya. Tapi rasanya tidak ada view yang lebih hangat daripada berkumpul bersama orang-orang tersayang...












Dan main-main di Scientia Park di pertengahan Januari....






Family, where life begins and love never ends... - quotes taken from everywhere

Sunday, January 8, 2017

Memasuki #usiacantik

Sejak memasuki bulan November setiap tahunnya selalu berasa ada keriaan tersendiri buat gw. It's my favorite persons' birthdays. 

Bulan Desember apalagi. Selain ulang tahun gw, Elvin, adik gw #2,  juga berulang tahun.

Ulang tahun kemarin, gw tepat berusia 35 tahun. Gak dipungkiri, ada rasa denial di dalam hati yang seolah belum mau mengakui kalau gw (akhirnya) memasuki usia 'sangat' dewasa. Usia yang udah gak lagi masuk di kategori dewasa muda; 18-34 tahun.

Kalo mau refleksi diri, udah ngapain aja sampai usia 35 tahun ini, kok kayanya stress sendiri karena ngerasa belum banyak ngapa-ngapain. Apalagi kalo baca ini. Duh dedek-dedek ini pada hebatan amat yaaa. Tapi kemudian dipikir-pikir, ngapain juga stress. Nambah-nambahin keriput aja deh. Yang penting selalu berusaha berbuat baik dan bersyukur setiap saat.

Yang jelas, sejak beberapa tahun belakangan, gw merasa lebih bisa menerima diri apa adanya. Lebih bisa santai dengan segala kekurangan yang gw punya, dan lebih selow. Di sisi lain, rasanya memang kurang seru ya. Kurang ambisiyeus dan kurang kompetitif gitu ya. Sepertinya gw sedang terjebak di comfort zone. Atau mungkin udah lelah? Ya elah, baru juga 35 tahun. Harusnya sih lagi produktif-produktifnya ya.

Beberapa tahun belakangan juga, gw melihat banyak teman sebaya yang melakukan perubahan dalam hidupnya. Perubahan yang paling banyak dan yang selalu membuat gw kagum adalah keputusan menjadi ibu rumah tangga setelah sekian lama berkarir hingga akhirnya punya posisi bagus di kantor. Keluarga tentu menjadi alasan utama, di samping alasan faktor pekerjaan atau lingkungan kerja yang biasanya sudah tidak mendukung. 

Kebayang aja sih, banyaknya hal yang harus di adjust dengan perubahan status itu. Dari yang paling jelas (fix income, jalanin kegiatan sehari-hari), hingga perubahan identitas diri. At the end, it's all about mindset and perception. I see many of them look genuinely happier than before. Walaupun ada juga siiiiih yang kelihatan gak lebih happy. Karena memang ada hal-hal yang memang gak bisa dinilai dengan uang berapa pun: waktu dan keberadaan bersama keluarga. Presence is priceless.

See... at the end, it's about family...


So, What's Happened On My Birthday?

Tepat di hari ulang tahun gw itu, pagi hari berjalan seperti biasa. Pagi-pagi Andri say happy birthday biasa. Nothing special. Agak bete juga sih kok suami gw ini gak kasih surprise apaan kek gitu. Lempeng amat. Tapi ya sudahlah, emang Andri sama sekali bukan tipe romantis. Gak ngarep juga.

Kebetulan hari itu gw gak ke kantor karena ikut melayat ke pemakaman almarhum orang tua Dept. Head gw di San Diego Hills. Pas lagi asyik foto-foto di spot sekitaran San Diego (jangan heran, spotnya emang kece jadi pas buat foto-foto) itu, di whatssap group kantor tiba-tiba ada yang ngirim foto bouquet bunga mawar. Pas fotonya di zoom, lho kok kayak kenal nama pengirimnya.



Hohoho, sekian tahun pacaran dan nikah, baru sekali ini dikirimin bunga begini. Gw masih amazed, kok bisa ya. Kesambet apa Beb ;p

Cukup tahun ini aja yaaa dikirimin surprise bunga. Tahun depan minta kirimin kado tambahan aja deh. Soalnya bunga kan cepet layu. Mending sepatu atau tas aja. Lho kok ngelunjak hihi. I love you too much, anyway :*

Selain itu, ada satu lagi yang bikin gw semangat. Entah kebetulan atau bukan, tepat hari itu juga di sore hari gw terima direct message dari seorang kenalan sesama #ttcsurvivor di Instagram yang mengabarkan kalau ia akhirnya hamil setelah menjalani program IVF yang ke-6 kalinya. 

Bayangin, 5 kali gagal IVF, dan masih punya semangat untuk terus ikhtiar. Dan alhamdulillah akhirnya Allah memberikan rezeki kehamilan di usia 38 tahun. Subhanallah. Gw selalu merinding kalau dengar berita kehamilan seperti ini. Sungguh semua udah diatur dan ditakar sama Allah dengan perhitungan yang kita gak pernah pahami. Dan pasti itu rencana yang paling indah.

Yang membuat gw lebih merinding adalah bahwa gw terima berita ini tepat di hari ulang tahun gw, yang mana menurut penelitian udah mulai memasuki usia di mana kondisi sel telur jauh menurun. Pastinya ini bikin gw semangat lagi buat terus ikhtiar demi menjemput rezeki anak tahun ini. Gak ada yang gak mungkin, selama ada usaha dan doa. 

May I have aamiin, please..... :)